Kekurangan Vetiver dan Tanaman Pilihan Pencegah Longsor

Kekurangan Vetiver dan Tanaman Pilihan Pencegah Longsor

Vetiver dipandang jadi salah satunya tipe tanaman yang bermanfaat untuk menahan longsor. Disamping itu, tanaman ini juga dapat mereduksi efek pencemaran sampah beresiko.

  • Presiden Joko Widodo sudah minta Kementerian Lingkungan Hidup serta Kehutanan (KLHK) dan beberapa pemda untuk selekasnya mereboisasi perbukitan di lokasi hulu sungai. Reboisasi itu butuh selekasnya dikerjakan, khususnya di hulu sungai di Kabupaten Bogor (Jawa barat) serta Lebak (Banten).

Menurut Jokowi, tanaman vetiver bisa jadi salah satunya tipe vegetasi penting untuk tutup tempat perbukitan di lokasi hulu sungai, sekaligus juga menahan banjir serta tanah longsor.

“Bukan hanya pohon-pohon keras, tetapi kami lihat utamanya tanaman pencegah longsor serta dapat menghalangi banjir bandang. Saya anggap tanaman vetiver, akar wangi, kelak akan saya mencari sebanyaknya bibit serta benih,” kata Jokowi dalam sambutannya waktu terima beberapa kepala wilayah terpengaruh banjir di Istana Merdeka, Jakarta pada 8 Januari 2020 kemarin.

Jokowi akui telah memerintah KLHK untuk mempersiapkan bibit tanaman vetiver serta beberapa tipe pohon yang lain untuk program penghijauan pada Januari-Februari 2020, di Bogor serta Lebak yang sempat dirundung banjir serta longsor awal tahun ini.

Kelebihan serta Kekurangan Tanaman Vetiver

Rumput vetiver (Chrysopogon Zizanioides) dapat berguna untuk menahan longsor. Tetapi, menurut periset tumbuhan Southeast Asian Region Centre for Tropical Biology (Seameo Biotrop), Supriyanto, manfaat vetiver jadi pencegah longsor untuk tidak periode panjang.

“Ya kemungkinan untuk periode pendek dapat. Tapi masih untuk pencegah longsor yang bagus untuk periode panjang ya pohon,” katanya seperti dikutip Di antara.

Supriyanto menerangkan akar vetiver dapat sampai kedalaman 6 mtr. pada media tanam bebas kendala, seperti sungai atau kolam. Sedang di tanah, akar vetiver bisa sampai kedalaman satu sampai 1,5 mtr.. “Untuk membuahkan panjang (akar) 1,5 mtr. saja harus di polybag,” tutur ia.

Meski begitu, ia memberikan tambahan, vetiver sistem mempunyai akar serabut yang dapat meredam erosi pada tanah sekuat seperenam kawat baja. Sayangnya, tanaman itu cuma hidup sepanjang seputar sembilan bulan.

Oleh karenanya, dia merekomendasikan pemerintah menanam tipe pohon-pohon yang mempunyai akar lebih kuat serta lebih dalam buat menahan longsor.

Supriyanto mencatat tanaman petai selong atau petai cina (Leucaena leucocephala), pohon nangka (Artocarpus heterophyllus) serta jengkol (Archidendron pauciflorum) memiliki kemampuan akar yang semakin besar untuk meredam longsor sebab dapat tembus kedalaman tanah serta bebatuan.

Di lain sisi, tanaman vetiver mempunyai manfaat yang lain, yaitu mereduksi pencemaran sampah kimia, mercuri serta sampah medis. Dr Jossep Frederick William dari Medicuss Grup Bandung menerangkan akar vetiver dapat mengikat toksin yang berada di lingkungan pertanian serta DAS atau pertambangan emas rakyat, yang tercemar sampah.

“Bila ditanam di lokasi yang memiliki kandungan sampah, sesudah 3-6 bulan, vetiver beralih jadi kelompok B3. Oleh karena itu jangan diambil dan digunakan bikin diambil extract-nya oleh warga, jangan dibakar,” tutur Jossep , seperti dikutip situs sah BNPB.

Sesaat praktisi komune vetiver, Irma Hutabarat menerangkan, untuk mencegah longsor, penanaman vetiver sistem yang diperlukan.

“Di Garut serta beberapa tempat, yang ditanam ialah akar wangi, yang diambil akarnya untuk bahan baku perfume Vetiveria Zizaionides. Yang kami tanam ialah bibit yang tidak sama, pencegah longsor, Chrysophogon Zizaionides, dengan daun yang keras serta tegak lurus,” kata Irma.

Menurutnya, Chrysophogon Zizaionides mempunyai peranan pencegah longsor atau banjir serta menjernihkan air. Salah satu tanaman yang akarnya serabut, tetapi memiliki kekuatan 1/6 kawat baja ialah vetiver Sistem,” katanya.

Selain itu, sesuai info BNPB, ada tiga barisan tipe tanaman yang akan ditanam untuk memulihkan ekosistem lokasi hulu sungai. Pertama ialah pohon-pohon tipe tanaman keras yang memiliki nilai ekonomis serta ekologis.

Pohon-pohon itu ialah Alpukat, Nangka, Cempedak, Matoa, Sukun, Aren, Rasamala, Puspa, cempaka,

Mindi, Ketapang, Jabon Putih, Beringin, Sempur, Mahoni, Gandaria serta Kayu Putih. Disamping itu, Kenanga, Sagu, Sereh Wangi, Kopi, Bambu, Kenari, Kemiri, Pala, Manggis serta beberapa tanaman endemik yang lain.

Sedang barisan ke-2 ialah vetiver sistem jadi pengikat tanah periode pendek. Vetiver yang akarnya kuat dipandang dapat mencengkram tanah.

Selanjutnya yang ke-3 ialah tanaman Porang. Tipe umbi umbian ini mempunyai nilai ekonomis untuk warga. Porang diantaranya dipakai jadi bahan baku untuk mie shirataki, rendah karbohidrat serta gula dan benar-benar baik untuk memperhatikan kesehatan pasien diabetes serta orang orang yang melakukan diet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *